Anamnesa : Wanita berusia 20 tahun berinisial D, seorang mahasiswi.
Kasus : Seorang teman saya, wanita berusia 20 tahun mengalami Felinophobia (phobia kucing). Setiap melihat kucing, dia selalu berteriak dan tidak tanggung-tanggung jika ada kursi atau meja, dia pun reflek untuk naik ke atas kursi atau meja tersebut. Bagi orang lain pecinta kucing mungkin kucing adalah binatang yang lucu dan menggemaskan. Tapi tidak bagi orang yang mengidap felinophobia (phobia kucing)
Terapi yang diberikan :
Salah satu alternatif mengobati phobia bisa dengan Hipnotis dengan memasukkan sugesti – sugesti baik,. Selain itu bisa juga dengan Desentisasi, yaitu dengan mendekatkan pengidap phobia dengan objek yang membuatnya takut. Tapi tidak sekaligus, melainkan dengan cara bertahap dan membuatnya merasa rileks terlebih dahulu.
Terapi Desentisasi (Terapi yang di gunakan untuk si “ D” secara singkat)
- Penderita diberikan stimulus berupa gambar kucing terlebih dahulu. Bila fase ini terlewati maka dapat dilanjutkan dengan fase berikutnya.
- Dengan membunyikan suara kucing.
- Melihat kucing dari jarak jauh kurang dari 200m.
- Kemudian mulai dekat-dekat dan mendekat dari kucing.
- Mulai memegang bulu kucing.
- Menggendong kucing.
Hasil setelah di berikan terapi :
Setelah mengikuti terapi tersebut saya melihat bahwa ada perubahan yang terjadi dari teman saya. Setiap melihat kucing dia tidak berteriak dan melakukan hal-hal untuk jaga jarak dari kucing tersebut bahkan dia sekarang sudah melihara kucing. Terapi yang dia lakukan cukup singkat, hanya dalam waktu 1 1/2 bulan perubahan nya sangat jelas terlihat.
