Senin, 18 April 2011

KASUS 3 : Felinophobia (Phobia Kucing)

A. 1. Case name : Pendekatan

2. Pre condition : None

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Bertegur sapa

2) Menanyakan kabar

5. Post Condition : Anamnese

6. Actor who gets benefit : Klien. Terapis, dan Seorang sahabat


B. 1. Case name : Anamnese

2. Pre condition : Pendekatan

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Menanyakan Identitas

2) Latar belakang keluarga

3) Pendidikan

4) Relasi sosial

5. Post Condition : Memilih terapi yang tepat

6. Actor Who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Seorang sahabat


C. 1. Case Name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre condition : Anamnese

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : Desentisisasi sistematis therapy

5. Post Condition : Pelaksanaan

6. Actor who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Seorang sahabat

D. 1. Case Name : Pelaksanaan terapi

2. Pre condition : Memilih terapi yang tepat

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Tahap pertama terapis memberikan kartu yang bergambar kucing.

2) Tahap kedua terapis membunyikan suara kucing.

3) Tahap keempat melihat kucing dari jarak jauh kurang dari 200m.

4) Tahap kelima klien mulai dekat-dekat dan mendekat dari kucing.

5) Tahap keenam klien memegang bulu kucing.

6) Tahap ketujuh yaitu tahap terakhir klien diberikan kucing dan menggendongnya.

5. Post Condition : Controlling

6. Actor who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Seorang sahabat


E. 1. Case Name : Controlling

2. Pre condition : Pelaksanaan terapis

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Tahap pertama terapis memberikan kartu yang bergambar kucing.

2) Tahap kedua terapis membunyikan suara kucing.

3) Tahap keempat melihat kucing dari jarak jauh kurang dari 200m

4) Tahap kelima klien mulai dekat-dekat dan mendekat dari kucing.

5) Tahap keenam klien memegang bulu kucing.

6) Tahap ke tujuh yaitu tahap terakhir klien diberikan kucing dan menggendongnya.

5. Post Condition : Evaluasi

6. Actor who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Seorang sahabat.


F. 1. Case Name : Evaluasi

2. Pre condition : Controlling

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Harapan awal : klien tidak berteriak dan melakukan hal-hal untuk jaga jarak dari kucing.

2) Saat terapi dilakukan, klien merasa nyaman dan mampu mengatasi phobianya.

5. Post Condition : None

6. Actor who Gets Benefit : Klien, Terapis, dan Seorang sahabat

KASUS 2 : Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

A. 1. Case name : Pendekatan

2. Pre condition : None

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Bertegur sapa

2) Menanyakan kabar

5. Post Condition : Anamnese

6. Actor who gets benefit : Klien. Terapis, dan Orang tua (Ibu)


B. 1. Case name : Anamnese

2. Pre condition : Pendekatan

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Menanyakan Identitas

2) Latar belakang keluarga

3) Pendidikan

4) Relasi sosial

5. Post Condition : Memilih terapi yang tepat

6. Actor Who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Orang tua (Ibu)



C. 1. Case Name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre condition : Anamnese

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : Metode prolonged exposure therapy

5. Post Condition : Pelaksanaan

6. Actor who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Orang tua (Ibu)

D. 1. Case Name : Pelaksanaan terapi

2. Pre condition : Memilih terapi yang tepat

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Tahap pertama diarahkan untuk menceritakan peristiwa traumatik yang dialaminya.

2) Tahap kedua diarahkan untuk mengenali bagian-bagian paling menakutkan dalam peristiwa itu.

3) Tahap ketiga pasien akan diarahkan untuk mendukung, memperkuat, dan memperbarui mekanisme adaptasi. “Psikiater akan membantu untuk meredakan perasaan bersalah, marah, sedih, depresi, cemas, dan mengurangi problem mental yang ada..

5. Post Condition : Controlling

6. Actor who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Orang tua (Ibu)


E. 1. Case Name : Controlling

2. Pre condition : Pelaksanaan terapis

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Tahap pertama diarahkan untuk menceritakan peristiwa traumatik yang dialaminya.

2) Tahap kedua diarahkan untuk mengenali bagian-bagian paling menakutkan dalam peristiwa itu.

3) Tahap ketiga pasien akan diarahkan untuk mendukung, memperkuat, dan memperbarui mekanisme adaptasi. “Psikiater akan membantu untuk meredakan perasaan bersalah, marah, sedih, depresi, cemas, dan mengurangi problem mental yang ada..

5. Post Condition : Evaluasi

6. Actor who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Orang tua (Ibu)

F. 1. Case Name : Evaluasi

2. Pre condition : Controlling

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Harapan awal : klien dapat menceritakan semua hal yang membuatnya trauma, semua ketakutannya.

2) Saat terapi dilakukan, klien merasa nyaman dan mampu menjelaskan trauma dan mengatasi traumanya.

5. Post Condition : None

6. Actor who Gets Benefit : Klien, Terapis, dan Orang tua (Ibu)

KASUS 1 : Sosial Fobia (social phobia) atau Social Anxiety Disorder (SAD)

A. 1. Case name : Pendekatan

2. Pre condition : None

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1. Bertegur sapa

2. Menanyakan kabar

5. Post Condition : Anamnese

6. Actor who gets benefit : Klien. Terapis, dan Orang tua (Ayah)



B. 1. Case name : Anamnese

2. Pre condition : Pendekatan

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Menanyakan Identitas

2) Latar belakang keluarga

3) Pendidikan

4) Relasi sosial

5. Post Condition : Memilih terapi yang tepat

6. Actor Who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Orang tua (Ayah)



C. 1. Case Name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre condition : Anamnese

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : Cognitive-behavioural therapy

5. Post Condition : Pelaksanaan

6. Actor who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Orang tua (Ayah)



D. 1. Case Name : Pelaksanaan terapi

2. Pre condition : Memilih terapi yang tepat

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Tahap pertama memberikan keterampilan bersosialisasi (social skills training) yang dapat dilakukan secara berkelompok atau group (self-help group).

2) Tahap kedua memberikan latihan dalam mengekspresikan rasa cemas secara tepat dan bagaimana mengontrolnya (exposure techniques).

3) Tahap ketiga memberikan untuk belajar mengubah cara berpikir yang salah (cognitive restructuring techniques).

4) Tahap kelima memberikan teknik kombinasi exposure-cognitive restructuring.

5) Tahap yang terakhir memberikan meditasi untuk mengurangi ketegangan otot (relaksasi) dan teknik copying.

5. Post Condition : Controlling

6. Actor who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Orang tua (Ayah)



E. 1. Case Name : Controlling

2. Pre condition : Pelaksanaan terapis

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Tahap pertama memberikan keterampilan bersosialisasi (social skills training) yang dapat dilakukan secara berkelompok atau group (self-help group).

2) Tahap kedua memberikan latihan dalam mengekspresikan rasa cemas secara tepat dan bagaimana mengontrolnya (exposure techniques).

3) Tahap ketiga memberikan untuk belajar mengubah cara berpikir yang salah (cognitive restructuring techniques).

4) Tahap keempat memberikan teknik kombinasi exposure-cognitive restructuring.

5) Tahap yang terakhir memberikan meditasi untuk mengurangi ketegangan otot (relaksasi) dan teknik copying.

5. Post Condition : Evaluasi

6. Actor who Gets Benefit : Klien. Terapis, dan Orang tua (Ayah)



F. 1. Case Name : Evaluasi

2. Pre condition : Controlling

3. Actor Who Intiates : Terapis

4. Steps : 1) Harapan awal : klien tidak merasa takut untuk berbicara di depan umum atatu berbicara sepatah kata pada situasi sosial tertentu.

2) Saat terapi dilakukan, klien merasa nyaman dan mampu mengatasi phobianya.

5. Post Condition : None

6. Actor who Gets Benefit : Klien, Terapis, dan Orang tua (Ayah)